Maya Hirai’s Page

lets fold!

Allah meminta syukurku

EDISI KHUSUS^-^

Sepeda ini pemberian Sista dari Egipt, namanya Rihab, tapi sekarang sudah hilang karena dipakai Yahya ke suatu tempat parkir tanpa dikunci, ternyata di Jepangpun masih ada yang jail ya!

Dan yang dua inilah yang setia menemani huntingku, dari mulai hunting origami ke rumah sensei, hunting buku origami di hard off, hunting serangga di bebungaan, sampe antar jemput Tsurayya dan Ismail itu. Dijalanan menurun dua anak bersorak senang karena angin menerpa wajah mereka kencang, tapi dijalan menanjak… begitu deh!^-^

Syukur adalah berterimakasih
Sedangkan makna lebih jauhnya adalah memberikan respon kepada yang telah memberi kebaikan berupa ucapan terimakasih, memuji pemberiannya, menjaga sikap terus menerus dihadapan si pemberi kebaikan sebagai bukti apa yang telah diberikannya itu amat berharga.

Pengalaman Pribadi

Awal tahun 2004 Allah menjatuhkan takdir padaku berupa kecelakaan kendaraan. Tepatnya ba’da maghrib seusai mengantarkan suami menuju suatu acaranya di kampung tetangga sana.

Malam itu rencananya adalah kembali ke rumah dan mampir ke supermarket untuk membeli susu. Namun setelah saya dan dua anak yang kecil turun dari mobil, ternyata diluar dugaan supermarket sudah tutup satu jam lebih cepat dari biasanya.
Kedua anak nangis karena tempat yang dituju sudah tutup.
Kemudian saya bujuk dengan mencari toko lain yang tentu masih buka untuk segera membeli susu yang diinginkannya itu.
Saya lalui jalan pintas yang tentu saja lebih kecil ukurannya dari jalan utama.
Tepat diperempatan pertama jalan pintas itu, Allah menurunkan takdir.

Karena dua anak yang duduk dibelakang belum reda dari tangis, maka kucoba membujuknya sambil terus dalam kemudi. Kutengok kebelakang untuk mengajaknya bicara. Entah kenapa refleks pandanganku memerintah untuk segera nengok kearah jendela kaca sebelah kanan, mungkin sedikit menyadari bahwa itu perempatan (walau gelap dan diantara tingginya bangunan rumah) namun sama sekali tak menyadari bahwa disitu mesti tomare.
Terlambat menyadari untuk menginjak rem, akhirnya mobil yang datang dari arah kanan dengan kecepatan tinggi itu tak mampu kuhindari. Kendaraan yang kupakai menjadi sasaran hantaman kecepatan lajunya. Persis di badan mobil sebelah kanan antara duduk supir dan penumpang belakang. Sementara penumpang itu adalah Ismail(2 th) dalam child seat tepat disisi pintu kanan itu, dan Tsurayya(4th) tanpa child seat duduk ditengah dg keadaan duduk maju kearah supir.
Mobil kamipun terpelanting. Namun karena ada tiang listrik besar didepan rumah seseorang, maka disitu mobil tertambat dan berhenti berputar melebihi 45 derajat. Sementara keadaan dalam mobil, adalah teriakan takbirku dan jerit kedua anak2 yang ketakutan.
Ismail terbanting namun tetap dalam child seat, naas pada Tsurayya, dia terbating kesana kemari karena tubuh kecilnya tak menggunakan pengaman serta duduk diujung kursi maju ke arah supir. Sementara keadaanku, shock karena menerima hantaman persis dipintu mobil sebelah tangan kananku. Namun sungguh-sungguh kekuasaan Allah, kaca mobil tidak runtuh pecah dan tidak menghasilkan luka, hanya memar disana-sini saja termasuk anak2, alhamdulillah.
Kecelakaan itu tepatnya adalah bulan ke delapanku mengemudikan kendaraan di Jepang ini. Lalu lintas Jepang yang tertib dan pengguna jalannya yang taat peraturan sebetulnya modal utama keselamatan alias terjamin dari kecelakaan yang tidak perlu terjadi. Namun bila ada izin Allah, apapun akan terjadi dan sebaliknya bila tidak ada izin Allah, maka anginpun akan berhenti berhembus.

Setelah kejadian itu, ingatanku take off menuju Indonesia. Terbayang begitu semrawutnya lalulintas disana, serta para pengguna jalan yang seenaknya, baik pengemudi mobil, pengemudi motor, pengemudi angkot, penaik sepeda atau sekedar pejalan kaki yang menyebrang atau berjalan kaki begitu intimnya dengan benda-benda keras dan besar-bergerak-seliweran-kenceng pula alias mobil.
Sementara di Jepang, selagi traffic light warna merah bekerja, maka tidak ada kendaraan yang berani bergerak kecuali diam dan menanti dengan santai hingga lampu berganti jadi benar-benar hijau. Bagi kendaraan yang telat start setelah lampu menjadi hijau, amat jarang terdengar bunyi klakson untuk mengingatkan pengendara itu.
Para pejalan kakipun, hampir selalu menyebrang dengan menggunakan zebra cross dilampu merah. Bila isyarat bergambar orang telah berwarna hijau, maka barulah menyebranginya, namun bila lampu itu masih merah walaupun tidak nampak kendaraan dari sana sini alias sepi, seorang jepang tetap menanti hingga lampu itu berubah hijau.

Pada kenyataannya, sejak 1989 sudah pegang SIM dan aktif digunakan di tempat yang kondisi lalulintasnya siapapun tidak bisa jamin (di Indonesia maksudnya) namun alhamdulillah tidak pernah mengalami kecelakaan baik ditabrak, atau menabrak bahkan sekedar nyenggol sekalipun. Lindungan dan tidak ada izin Allahlah penyebabnya.
Namun Giliran baru 8 bulan di negri yang lalulintasnya sangat teratur dan rapih malah Surat Izin Kejadian itu turun dari Allah ta’ala.

Pasca Kecelakaan

Karena SIM Indonesia habis masa berlakunya, kemudian mendengar proses apply SIM Jepang agak rumit bagi yang pernah kecelakaan, membuatku tidak bersemangat mengusahakan memiliki SIM Jepang. Singkat cerita, sejak kecelakaan itu total tidak mengemudikan lagi kendaraan.

Hampir 10 hari lalu ini suami pergi ke Europe untuk keperluan studinya. Tentu saja disamping resiko-resiko lain yang harus diatasi, satu resiko lagi adalah semua aktifitas yang memakan jarak tertentu harus di tempuh dengan menggunakan Sepeda sebagai ganti mobil. Memang walau suami adapun, bila ingin ke toko buku atau mendatangi nihon go class ya sepeda lah fasilitasnya, namun sifatnya temporer.

Baru terasa kini, begitu berartinya sepeda untukku. Dari mulai antar dua anak ke Hoikuen, hadir di kelas Origami, ke kantor pos, beli keperluan dapur hingga cari baju Yutaka untuk satu acara di sekolahnya Tsurayya semua kutempuh pakai sepeda, setiap hari, ibaratnya bagai hariku habis dengan bersepeda.
Pagi hari antar keduanya ke sekolah, pulang sebentar sarapan jawab E-mail, pantau milis juga sanggar, siap-siap lalu sholat kemudian pergi belanja dapur menuju beberapa supermaret, begitu sampai rumah sholat lalu jemput lagi keduanya dengan bersepeda pula tentu.
Untuk kenyamanan duduk anak2 itu, kulengkapi dua tempat duduk khusus disepeda, dimuka dan belakang. Sering kali hampir terjatuh bersama karena belum terbiasa, maklum hanya semenjak kecelakaan itulah jadi pengguna sepeda apalagi disertai penumpang. Waktu lalu abi mengomentari “umi sih gak berani bonceng anak2 pake sepeda” karena saya memang betul2 gak mau dan takut pake sepeda apalagi pake boncengan (waktu itu).

Pernah satu hari, sudah sangat sore, menjelang maghrib sangat perlu kartu telpon untuk kontak internasional, ditambah kedua anak sangat ingin eskrim, lalu pergilah kami bertiga ketempat yang sangat jauh (untuk ukuran naik sepeda bertiga) dengan medan menanjak pula. Terpaksa dan laa haula wala quwwata ila billah…alhamdulillah selamat kembali ke rumah walau dengan lelah yang luar biasa.

Sore hari, jam anak-anak pulang sekolah, tentu dengan sepeda lagi mereka kujemput, ternyata dengan disertai beban boncengan kayuhan lebih ‘terasa’, tidak bisa dinafikkan (walau kata abi kalo sudah jalan tak terasa bawa beban).

Pada saat berheboh-ria dengan sepeda itu, ditengah terik matahari musim panas tahun ini, sang Mobil hanya bisa parkir dengan manisnya disamping rumah. Akupun hanya mampu melirik dan sedikit menyinggungkan senyuman, dalam hati berguman “terimakasih atas tawaranmu”, olala…. bukan rizkiku lagi kini menggunakanmu….

Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah telah Engkau beri aku sepeda untuk menemani hari-hariku, semoga kusyukuri terus-menerus karunia sepeda -berikut kemampuan mengemudikannya ini, agar tak Kau cabut dikemudian hari karena kelalaianku mensyukuri pemberianMu ini.
Dan yang lebih penting dari itu, terimakasih atas ingat kembali bahwa syukur nikmat itu harus karena salah satu keperluanku.
Kini, kusedang belajar berterimakasih lewat karunia yang tampak kecil ini. Mungkin karunia 13 th mampu mengemudi tanpa kecelakaan itu telah lalai kusyukuri hingga kumesti kembali belajar berterimakasih dari hal yang kecil ini.

Pentingnya Syukur Nikmat

1. Merupakan Perintah Allah

Setelah Allah memberikan karunia berfikir kepada manusia, Allah memerintahkan untuk bersyukur pada Allah lalu kepada kedua orang tuanya,

“……..dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadanya kamu menyembah” (Qs:172)

“Kami mewasiatkan manusia, bahawa dia berbuat baik kepada ibu bapanya; ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah; pengandungannya dan penyusuannya tiga puluh bulan. Sehingga, apabila dia sampai dewasa, dan sampai empat puluh tahun, dia berkata, ‘Wahai Pemeliharaku, sediakanlah aku supaya aku berterima kasih atas rahmat Engkau, yang dengannya Engkau merahmati aku dan bapa dan ibuku, dan supaya aku membuat kerja-kerja kebaikan yang memuaskan hati Engkau, dan betulkanlah aku, dan juga pada keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau, dan aku termasuk orang-orang yang muslim'” (Qs.46:15)
“Dan Kami mewasiatkan manusia mengenai ibu bapanya – ibunya mengandungnya dalam kelemahan atas kelemahan, dan penyusuannya selama dua tahun – ‘Berterimakasihlah kepada-Ku, dan kepada ibu bapa kamu; kepada-Ku kepulangan'” (Qs.31:14).
Hanya Allah saja Zat yang memberi karunia kepada manusia dimuka bumi ini, yang memberi semua apa yang kini manusia rasakan, gunakan dan miliki. Sehingga Allah jua yang mengajarkan serta memerintahkan manusia agar berterimakasih kepadaNya atas semua pemberianNya itu.
Orang tua oleh Allah diletakan berikutnya setelah perintah berterimakasih kepadaNya, karena Orang tua adalah makhluk yang paling pertama memberi kebaikan pada seorang anak manusia dimuka bumi ini. Tanpa “orangtua” tidak mungkin anak manusia ada, kecuali Adam dan Hawa. Sehingga orangtualah yang berhak disyukuri kebaikannya setelah Allah. Disamping itu, karena melalui orangtualah Allah memberikan karunia yang besar pada anak manusia termasuk karunia “kasih-sayang”Nya, sehingga manusia dimuka bumi ini mengenal arti dan fadhilah kasih sayang sekaligus sebagai salah satu sifat Allah SWT.

2. Allah memberi pujian pada hambaNya yang tidak pernah lalai dalam mensyukuri nikmatNya

“Tiadalah sesuatu jiwa akan mati, kecuali dengan izin Allah, pada waktu yang telah dikitabkan (ditetapkan). Sesiapa yang menghendaki ganjaran dunia, Kami memberi daripadanya, dan barangsiapa yang menghendaki ganjaran akhirat, Kami memberinya pula dan Kami akan membalas orang-orang yang berterima kasih.”(Qs.3:145)

Dalam Ayat lain dikatakan bahwa Allah itu maha Mensyukuri, maka terhadap orang-orang yang pandai berterimakasih Allah lebih berterimakasih lagi. Artinya, sedemikian rupa Allah muliakan orang-orang yang tak pernah lalai berterimakasih thd karuniaNya.

3. Akan menambah kuatnya iman dan nikmat dari Allah SWT
Ini merupakan janji Allah terhadap orang-orang yang syukur nikmat, sedangkan Allah adalah zat yang tak pernah mengingkari janji.
“Dan apabila Pemelihara kamu menyatakan, ‘Jika kamu berterima kasih, sungguh Aku akan menambahkan kepada kamu,….”(Qs.14.7)
4. Allah tidak akan menyiksa orang-orang mukmin yang senantiasa bersyukur
Allah tidak pernah menyia-nyiakan sekecil apapun kebaikan yang hambaNya perbuat, apalagi kalimat syukur dan menyebut2 kebaikan yang telah Allah berikan.

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah maha mensyukuri lagi maha mengetahui”(Qs.4:147)
Allah maha mensukuri maksudnya Allah itu mensyukuri hamba-hambaNya.(masyaAllah—Allahu Akbar malu nian hambaMu ini ya Rabb.)

5. Allah melarang mengingkari nikmatnya dan mencela serta mengancam dengan AzabNya terhadap yang kufur nikmat
“ ……..dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu”(Qs.2:152)
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar dan tidak berterima kasih pada Tuhannya”(Qs.100:6)
“….dan jika kamu tidak berterima kasih (kafir), maka sesungguhnya azab-Ku sungguh keras.”(Qs.14:7)
Dalam Qur’an surat An Nahl ayat 112, Allah SWT berfirman: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah SWT, karena itulah Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka telah perbuat.”
WaAllahu a’lam bishawab
Toyohashi, 15 July 2005
Maya Fajar

July 26, 2005 - Posted by | Day by Day

7 Comments »

  1. Laen kali ati2, ya, May, nyetir nya…🙂

    Comment by Devita/Alya's Mom | July 26, 2005 | Reply

  2. horor banget kejadiannya may😦

    kalo aku silaturahim ke toyohashi trus masa’ diajak jalan2nya pake sepeda sih may…hihihi

    aya ama ismail apa kabar? big hug buat mereka ya bu🙂

    Comment by Hani | July 26, 2005 | Reply

  3. Ckckck…ikut2an edisi khusus neh….? ^_^

    Sing sabar ae yo…hehe…lagian dipinjemin motor ga mau seh…! :p

    Comment by ARS | July 27, 2005 | Reply

  4. Trim-trim.:), guestbooknya dapet masalah nii.., waktu otak-atik mo digeser dicut dulu critanya itu script, trus ketika ditinggal sebentar kompi pindah tangan pemakai…, lalu jarinya bercopypaste ria utk keperluannya…,dan alhasil….script tagboardku dah ketimpa!#:-S

    Comment by mfi | July 27, 2005 | Reply

  5. Kebiasaan buruknya muncul lagi kan? Ga di backup tho? CKckckck…

    Comment by ARS | July 29, 2005 | Reply

  6. he2

    Comment by mfi | July 29, 2005 | Reply

  7. sebuah cerita yang menyentuh teh….
    bersyukur kadang susah banget ya teh, seribu anugrah kadang tertutup oleh satu hal kecil yang bahkan terlalu kecil untuk disebut cobaan….

    kalau pandai bersyukur tentu akan bahagia ya teh…..

    benar2 harus terus belajar untuk bersyukur🙂

    Comment by days of dee tresna | August 3, 2005 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: