Maya Hirai’s Page

lets fold!

Kisah : Doa seorang penjual Tempe

Pagi-pagi dapet postingan dari members Tsutsuji, milis muslimah Toyohashi..
Terlalu berharga dibiarkan mengendap diantara 5842 mail di inbox m_aya52000@yahoo.comšŸ˜€
Selamat menyimak…

Ada seorang hamba Allah (yang berasal dari Surabaya),
yang menceritakan
kejadian seorang ibu penjual tempe. Peristiwanya
terjadi di sebuah desa
di Jawa Tengah. Ibu setengah baya tersebut
sehari-harinya adalah
penjual tempe di desanya. Tempe yang dijualnya
merupakan tempe yang dibuatnya
sendiri.

Pada suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan
pergi ke pasar
untuk menjual tempenya, ternyata pagi itu, tempe yang
terbuat dari kacang
kedele itu masih belum jadi tempe alias masih setengah
jadi.

Ibu ini sangat sedih hatinya. Sebab jika tempe
tersebut tidak jadi
berarti ia tidak akan mendapatkan uang karena tempe
yang belum jadi
tentunya tidak laku dijual. Padahal mata pencarian si
ibu hanyalah dari
menjual tempe saja agar ia dapat memenuhi keperluan
hidupnya sehari-hari.

Dalam suasana hatinya yang sedih, si ibu yang memang
aktif beribadah
teringat akan firman Allah yang menyatakan bahwa Tuhan
dapat melakukan
perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Allah tiada yang
mustahil. Lalu iapun
mengangkat kedua tangannya berdoa di antara beberapa
batangan kedele
yang masih dibungkus dengan daun pisang tersebut.
Allah, aku mohon
kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe, Amin.

Demikian doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan
sepenuh hatinya.
Ia yakin dan percaya pasti Allah menjawab doanya.
Lalu, dengan tenang
ia menekan-nekan dengan ujung jarinya bungkusan bakal
tempe tersebut.
Dengan hati yang deg-deg-an ia mulai membuka sedikit
bungkusannya untuk
melihat mukjizat kedele jadi tempe terjadi. Lalu apa
yang terjadi..
Dengan kaget dia mendapati bahwa kedele tersebut masih
tetap kedele. Si Ibu
tidak kecewa. Ia berpikir bahwa mungkin doanya kurang
jelas didengar
Allah.

Lalu kembali ia mengangkat kedua tangannya berdoa di
antara beberapa
batangan kedele tersebut. “Allah, aku tahu bahwa
bagiMu tiada yang
mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa
berdagang tempe karena
itulah mata pencarianku Aku mohon Allah jadilah ini
menjadi tempe, Amin”.

Dengan berharap iapun kembali membuka sedikit
bungkusan tersebut. Lalu
apa yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang
kedele
tersebut..masih tetap begitu!

Sementara hari semakin siang di mana pasar tentunya
akan semakin ramai.
Si ibu dengan tidak merasa kecewa atas doanya yang
belum terkabul,
merasa bahwa bagaimanapun sebagai langkah iman ia akan
tetap pergi ke pasar
membawa keranjang berisi barang dagangannya itu. Ia
berpikir mungkin
mukjizat Allah akan terjadi di tengah perjalanan ia
pergi ke pasar. Lalu
iapun bersiap-siap untuk berangkat ke pasar.

Semua keperluannya untuk berjualan tempe seperti
biasanya sudah
disiapkannya. Sebelum beranjak dari rumahnya, ia
sempatkan untuk mengangkat
kedua tangannya untuk berdoa. “Allah, aku percaya,
Engkau akan
mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju
pasar, Engkau akan mengadakan
Mujijat buatku, Amin”.

Lalu ia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan ia
tidak lupa baca doa
dalam hati.

Tidak lama kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti
biasanya ia
mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya.
Ia yakin bahwa
tempenya sekarang pasti sudah jadi. Lalu iapun membuka
keranjangnya dan
pelan-pelan menekan-nekan dengan jarinya bungkusan
tiap bungkusan yang ada.

Perlahan ia membuka sedikit daun pembungkusnya dan
melihat isinya. Apa
yang terjadi? Ternyata saudara – saudara ?? tempenya
benar-benar..??
belum jadi!

Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam-dalam.
Ia mulai kecewa
pada Allah tidak adil.

Allah tidak kasihan kepadanya. Ia hidup hanya
mengandalkan
(mengharapkan) hasil menjual tempe saja. Selanjutnya,
ia hanya duduk saja tanpa
menggelar dagangannya karena ia tahu bahwa mana ada
orang mau membeli
tempe yang masih setengah jadi.

Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulai
sepi dengan pembeli.
Ia melihat dagangan teman-temannya sesama penjual
tempe yang tempenya
sudah hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi
tersisa. Si ibu
tertunduk lesuh. Ia seperti tidak sanggup menghadapi
kenyataan hidupnya hari
itu. Ia hanya bisa termenung dengan rasa kecewa yang
dalam. Yang ia
tahu bahwa hari itu ia tidak akan mengantongi uang
sepeserpun.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita.
“Bu…?..! Maaf
ya…, saya mau tanya. Apakah ibu menjual tempe yang
belum jadi”.
Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar
mencarinya.

Seketika si ibu tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia
menjawab sapaan
wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia
berdoa, “Allah, saat
ini aku tidak perlu tempe lagi. Aku tidak perlu lagi.
Biarlah
daganganku ini tetap seperti semula, Amin”.

Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu. Ia
berpikir
jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung tadi,
tempenya sudah jadi. Jadi
ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu untuk
menjawab ya kepada
wanita itu. “Bagaimana nih ?” ia pikir. “Kalau aku
katakan
iya,jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi
sudah terjadi mukjizat Allah?”
Ia kembali berdoa dalam hatinya, “Ya, Allah, biarlah
tempeku ini tidak
usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang
kelihatannya mau beli. Allah
tolonglah aku kali ini. Allah dengarkanlah doaku
ini..” ujarnya
berkali-kali.

Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka
sedikit daun
penutupnya. Lalu??apa yang dilihatnya
Saudara-Saudara……?
Ternyata….memang benar tempenya belum jadi Ia
bersorak senang dalam hatinya.
“Alhamdulillah”,katanya.

Singkat cerita wanita tersebut memborong semua
dagangan si ibu
itu.Sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada
orang yang mau beli tempe
yang belum jadi. Ia bertanya kepada si wanita.

Dan wanita itu mengatakan bahwa anaknya di Yogya mau
tempe yang berasal
dari desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke
Yogya jadi ia harus
membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya
disana, tempenya
sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi yang dikirim
maka setibanya
disana nanti tempe tersebut sudah tidak bagus lagi dan
rasanya sudah tidak
enak lagi.

Apa yang bisa kita simpulkan dari kejadian ini?

Pertama : Kita sering memaksakan kehendak kita kepada
Allah pada waktu
kita berdoa padahal sebenarnya Allah lebih mengetahui
apa yang kita
perlukan.

Kedua : Allah menolong kita dengan caraNya yang sama
sekali di luar
perkiraan kita sebelumnya.

Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Allah

Keempat : Percayalah bahwa Allah akan menjawab doa
kita sesuai dengan
rancanganNya.

August 3, 2005 - Posted by | Day by Day

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: