Maya Hirai’s Page

lets fold!

NikmatNya: Sakit atau Sehat 10 Ramadhan 1426 H

Untuk temen2 di Bandung, tentu jadi basi ya berita ini, karena baru kemarin dipublish di harian PR, tapi sungguh dibiarkan sayang bila tidak dikoleksi^-^
Semoga ibadah-ibadahnya di 10 H pertama ini memuaskan yaa.. kalo belum, ayo bersegera.. masih 20 H nih…Gambarimashoo!!…

SUARA orang membaca ayat-ayat suci Alquran terdengar dari sebuah masjid, yang letaknya tak jauh dari Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah, Jln. Banteng, Bandung. Saat itu, dini hari menjelang umat Islam makan sahur.

Di ruang tunggu pasien, tampak jarum jam dinding menunjuk ke angka 3.30 WIB. Seorang ibu berusia muda, Ny. Leti Latifah terlihat sedang bebenah lemari pasien. Dia menyiapkan makanan untuk sahur suaminya, Eri Setiawan.

Pasangan suami istri, warga Perumnas Bumi Rancaekek Kencana (BRK) Kab. Bandung ini, sejak beberapa hari berada di RS Muhammadiyah untuk menunggu orangtuanya yang sedang memperoleh ujian Allah SWT berupa sakit jantung.

“Alhamdulillah, beberapa hari lagi, orang tua kami akan pindah ruangan. Sudah boleh keluar ruangan ICCU ini,” tutur Ny. Leti Latifah, dengan wajah sumringah.

Diceritakannya, dirinya sejak beberapa hari berada di RS sering bercengkerama dengan ibu-ibu yang juga menunggu anggota keluarganya yang sedang sakit.

“Ketika kami di RS ini, benar-benar merasakan betapa nikmatnya memperoleh anugerah dari Allah SWT berupa tubuh sehat. Soalnya, banyak pasien di RS yang ingin sekali beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah lainnya sebagaimana Ramadan tahun lalu yang dilaluinya sebulan penuh,” ujar alumnus Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung ini.

Menurut Eri Setiawan, nikmatnya sehat, baik saat bulan suci Ramadan maupun di luar Ramadan, itu sebenarnya sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Kenikmatan tersebut cenderung hanya bisa dirasakan. Kalau secara kasatmata, orang yang disehatkan oleh Allah SWT saat Ramadan ini kan bisa menegakkan salat fardhu, salat tarawih, berdoa, dan kelak melakukan i’tikaf serta salat Idulfitri,” ujarnya.

Kendati demikian, Eri Setiawan dan Ny. Leti Latifah merasa yakin, sakit atau sehatnya setiap manusia pada bulan Ramadan ini mengandung hikmah tersendiri. Yang jadi persoalan, tidak semua orang dapat memetik hikmah dari peristiwa sakit atau sehat yang dialaminya.

“Allahlah yang Maha Mengetahui mana yang baik dan buruk bagi hamba-Nya yang mendapat ke-‘nikmat’-an sakit dari-Nya,” ujar Eri Setiawan, apoteker yang aktivis dakwah ini.

****
LALU, mengapa umat Islam yang menderita sakit sangat merindukan kondisi sehat sehingga bisa menikmati ibadah bulan Ramadan?

Pertanyaan itu umumnya dijawab dengan hal senada bahwa bulan Ramadan itu terdiri dari tiga bagian “istimewa” sebagaimana sering dilontarkan oleh alim ulama. Mereka menyebutkan, pada 10 hari pertama Ramadan merupakan bulan rahmat, 10 hari pertengahan Ramadan ialah bulan ampunan, dan 10 hari terakhir Ramadan merupakan saat pembebasan dari neraka. Bulan Ramadan mempunyai makna yang istimewa dan kedudukan yang mulia, karena dalam bulan tersebut banyak terjadi peristiwa yang bersejarah.

Apa yang mesti dilakukan oleh mereka yang sakit saat Ramadan?

Ketua MUI Kota Bandung, Dr. K.H. Miftah Faridl mengatakan, di antara udzur yang membolehkan seseorang untuk tidak berpuasa adalah:

1. Safar atau sakit yang berbahaya bila berpuasa dan masih ada harapan untuk sembuh. Orang yang mendapat udzur ini, boleh tidak berpuasa, tetapi dia wajib meng-qadla-nya di bulan-bulan lain. Apabila dia berpuasa, puasanya sah. Ini bisa dilihat di Alquran Surat Al Baqarah ayat 184.

2. Orang yang tidak kuat berpuasa karena usia tua, sakit, dan tidak ada harapan sembuh, boleh meninggalkan puasa dan menggantinya dengan memberi makan orang miskin–satu–untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Sedangkan jumlah makanan yang diberikan yaitu satu mud (segenggam tangan) gandum atau satu Sha’ dari bahan makanan lainnya.

3. Perempuan hamil atau menyusui, bila khawatir terhadap kesehatan dirinya dan bayinya atau mengkhawatirkan kesehatan dirinya, maka oleh berbuka dan menggantinya dengan membayar fidyah. Akan tetapi, bila khawatir terhadap bayinya, menurut Imam Syafi’i dan Ahmad, wajib meng-qadla dan membayar fidyah. Sedangkan menurut mazhab Hanafi wajib meng-qadla saja. Menurut Ibnu Abbas r.a., wajib membayar fidyah saja.

4. Para pekerja berat yang tidak mempunyai sumber penghidupan lain dan bila berpuasa membahayakan fisiknya, ia boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah.

* *

MENYINGGUNG kasus tidak puasa karena tidak sakit, K.H. Miftah Faridl mengatakan, Muslim yang semacam itu mengalami kerugian yang besar. Alasannya, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan puasa sehari di bulan Ramadan, bukan karena suatu udzur dan sakit, maka sehari tersebut tidak dapat di qadla’ dengan puasa sepanjang masa”. (H.R. Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At Turmudzi).

Bagaimana seandainya muntah saat berpuasa?

K.H. Miftah Faridl mengatakan, jika muntahnya tidak sengaja, tentu tidak terkena kewajiban meng-qadla puasa pada hari yang lain atau di luar Ramadan. Ini selaras dengan sabda Rasulullah saw yang artinya, “Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja, maka tidak wajib meng-qadla, dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka wajib meng-qadla.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At Turmudzi). (Sarnapi/Achmad Setiyaji/”PR”)***

October 14, 2005 - Posted by | Day by Day

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: