Maya Hirai’s Page

lets fold!

Fenomena I’tikaf 15 Ramadhan 1426 H

I’tikaf, Bersihkan Dosa, Raih Pahala
Musholla An-Nahl PT Samsung Electronics Indonesia
Edisi/ Tanggal : 61/ 21-Des-2000

Menarik memang, disaat kebanyakan orang sibuk merebut dunia, mereka malah asik mendulang pahala. Mangkin mendekati lebaran, apa lagi malam-malam ganjil yang salah satunya diyakini merupakan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari pada malam seribu bulan. Untuk memburunya mereka melakukan I’tikaf di masjid sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Pandangan seperti ini biasa kita temukan di masjid Al-Hikmah , pela Mampang, Jakarta Selatan. Seperti tahun-tahun sebelumnya penguruh masjid akan mengelar paket I’tikaf sepuluh hari terakhir. Setiap tahun pesertanya terus membludak, sehingga panitia kewalahan. Namun karena keterbatasan sarana, tahun ini panitia membatasi peserta hanya sekitar 300-400 orang saja.

Kegiatan I’tikaf di Masjid Al-Hikmah memang mempunyai daya tarik tersendiri. Setiap malamnya mereka bisa melakukan qiyamullail berjama’ah yang bacaan suratnya menamatkan 3 juz Al-Qur’an. Targetnya, dalam tempo sepuluh malam mereka bisa menghatamkan 30 juz. Yang tak kalah mengesankan, ternyata sebagian imamnya adalah ABG (Anak Baru Gede) yang telah hafal Al-Qur’an. Diantaranya, Abu A’la Al-Maududi. Siswa kelas II SMU ini, diusianya yang masih sangat muda telah hafal di luar kepala seluruh Al-Qur’an.

Meski masih sangat belia, namun kefasihan bacaan dan kedalaman penghayatannya terhadap ayat-ayat yang dibacanya terbilang luar biasa. Sering kali makmum terisak tangis menyimak bacaannya. Ketika dibacakan ayat-ayat yang berbicara tentang keluasan rahmat Allah, bergeloralah harapan dan kerinduan mereka untuk meraihnya. Sebaliknya, ketika dibacakan ayat-ayat azab (Siksaan), tubuh mereka berguncang seolah-olah akan dilemparkan ke neraka.

Selain Qiyamullail, kegiatan I’tikaf pun diisi dengan berbagai kajian materi keislaman seperti Tafsir, Hadits, Fiqih, Sirah (perjalanan hidup Rasulullah), dan sejumlah materi lainnya yang langsung merunjuk kepada sumber aslinya. Karena itu tidak sedikit peserta yang datang dari luar Jakarta, bahkan dari luar Jawa.
Tahun lalu misalnya empat peserta datang khusus dari Padang untuk I’tikaf di masjid ini, uniknya keempatnya adalah wanita.

Memang sebagian peserta I’tikaf adalah kalangan wanita,. Tidak hanya kalangan muda, namaun banyak pulan yang sudah lanjut usia, ada juga yang sedang hamil tua,bahkan tidak sedikit ibu muda membawa balita. Tampaknya dalam memburu pahala, mereka tak mau kalah dari kaum pria.

Ihwal, wanita melakuakn I’tikaf bukanlah mengada-ngada. Ketika Rasulullah saw melakukan I’tikaf, istri-istri beliaupun melakukan hal yang sama. Bahkan setelah beliau meninggal dunia, para ummahatul mukminin itu tetap meneruskannya. Atas dasar itu, Mantan Mufti Besar bin Baz (Almarhum) menyimpulkan bahwa pada dasarnya I’tikaf hukumnya sunnah, bagi pria maupun wanita. Yang penting sebagaimana dalam
shalat, hijab tetap di jaga.

Pemandangan yang sama juga bisa disaksikan di Masjid Al-Qalam, iqro Jatimakmur, Pondok Gede, malah disini kegiatan I’tikaf sudah dilakukan setiap satu bulan sekali,diluar Ramadhan, tahun lalu masih diberlakukan untuk wanita, terutama karyawati PT. Samsung. Tapi karena keterbatasn tempat, hanya bisa memapung sekitar 300 peserta,maka pesertanya untuk tahun ini hanya laki-laki saja, dengan biaya perhari Rp. 6500 untuk 2 kali makan (murah kan!). Kita bisa menimba ilmu berbagai sumber.

Kita bisa menyaksikan juga di Masjid Kebun Jeruk, seperti di Al-Hikmah di sinipun jama’ah yang mendaftar sangat banyak. Kebanyakan pendaftar adalah jama’ah tetap masjid ini, infaqnya perhari Rp. 10.000 untuk 1 kali makan, mereka biasanya makan bersama dalam satu nampan, yang jatahnya untuk lima orang. Sedangkan harga persatu nampan Rp. 5000, dengan demikian , peserta setiap hari di kenakan biaya Rp. 2000.

Latar belakang peserta sangat beraneka ragam. Malah peserta sebagian mereka datang dari berbagai penjuru tanah air. Itikaf adalah salah satu cara untuk membersihkan diri dari dosa, memperbaikai akhlak dan mendekati diri kepada Allah sekaligus silaturahmi dengan saudara-saudara muslim.

Untuk mempersiapkan biasanya, kebutuhan keluarga untuk selama Ramadhan sudah disiapkan jauh-jauh hari.

Bagi Zain (peserta I’tikaf dari Sumatera Utara), Itikaf selama Ramadhan bukan semata-mata mengejar Lailatul Qadar. Karena menurutnya, meski berusaha mengejarnya satu bulan penuh, kalau Allah tidak berkenan meberikannya, maka pasti ia tidak akan mendapatkannya., yang penting baginya amalan kita bisa isiqomah (kontinyu terus menerus). Jadi saya berusaha menjalankan amalan ini seumur hidup saya, bukan
sebatas bulan Ramadhan”, tegas petani kecil ini.

Setelah menjalankan I’tikaf beberapa lama, Zain makin yakin bahwa keberkahan Allah telah dilimpahkan kepada keluarganya. “Istri dan anak perempuan saya yang tadinya tidak pakai jilban, sekarang pakai jilbab, bahkan sekarang sehabis sholat subuh, sebelum pergi ke kebun dan ke pasar, mereka rajin membaca Al-Qur’an terlebih dahulu”, tutur Zain dengan sorot mata terbinar-binar.

Kegiatan I’tikaf juga berlangsung di Masjid Raya Pondok Indah dan masjid Bimantara. Masjid pondok Indah sebenarnya sudah menjalankan progran ini 5 tahun yang lalu, yaitu sejak tahun 1995. Menurut panitianya, program ini diselenggarakn atas pemintaan jama’ah, sehingga mereka bertekad terus memperbaiki pelaksanaannya. Meski terletak di kawasan elit Pondok Indah, peserta I’tikaf justru banyak dari daerah sekitarnya seperti Ciputat, Pondok Labu, Lebak Bulus, Radio Dalam dsb.

Sementara itu di masjid Bimantara, peserta sebagian besar adalah para mahasisiwa yang berasal dari Jabotabek. Disamping itu ada sejumlah karyawan Bimantara. Bahkan bebarapa komisaris perusahaan juga ikut bergabung. Dimasjid ini program I’tikaf sudah tesusun dengan rapi. Sederet program dan serentetan acara telah dipersiapkan untuk mengisi kegiatan I’tikaf tersebut.

Terobosan kreatif para pengurus masjid diatas menunjukan bahwa semangat umat Islam untuk beribadah di bulan Ramadhan sangat tinggi. Beruntunglah mereka karena melalui I’tikaf bisa menghisab diri, menghitung-hitung kesalahan untuk melakukan perbaikan. Paling tidak dua target harus terlampaui, membersihkan dosa dan menuai pahala. Melalui jalan seperti ini, peluang untuk meraih kembali fitrah yang sempat hilang terbuka lebar.

Sayang belum banyak orang yang terlah terbuka nuraninya untuk menghidupkan kembali sunnah Rasulullah saw. Padahal, jauh-jauh hari beliau sudah mensinyalir bahwa salah satu kelompok manusia yang akan memperoleh perlindungan Allah di hari akhirat adalah mereka yang hatinya yang selalu merindukan rumah-Nya. Akankah kita termasuk diantara mereka atau sebaliknya ?

October 19, 2005 - Posted by | Day by Day

1 Comment »

  1. You have a great blog here! I have a knitting instructions site. You can find everything about knitting instructions as well as knitting stitches, needles, machines, magazines and more. Check it out when you can🙂
    Rod

    Comment by Anonymous | October 19, 2005 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: