Maya Hirai’s Page

lets fold!

Episode Adaptasi dan Prihatin

Assalamualaikum
Ohayooooo
Met Pagi dear friend di negri manapun berada.. yang jelas yang saat ini sedang terpaku disini *smile*
Pagi ini bela-belain kabur dari rumah my second mom dan nitip dua anak balitaku khusus buat update dunia mayaa. Abis baca qur’an gak pake sarapan dan minum teh manispun langsung ikut keluar sama adik sepupu yang pergi kuliah pake kendaraannya, maklumlah jarak ke warnet terdekat paling tidak mesti dimodalin 6000 rp belum utk warnetnya itu sendiri sejam 4000 rp sekarang saya pandai lagi menghitung rupiah loh, belum lagi kalo merinci pengeluaran ongkos public transportation ‘alias angkot’ seru juga ya indonesia, jarak deket aja sekarang ukurannya RIBU kalo tahun 80-an kan masih 50 perak tuh hi2 jaman saya SD, jaman SMA masih seratus rupiah tuh..

Sebulan kurang 10 hari ato 20 hari sudah saya berada di tanah air tercinta. Dengan segala pergulatan hidup berbaur dengan seluruh perikehidupannya🙂.. Bener deh asli saya telah kembali dengan serius.. yaa kalo ternyata pergi lagi ke Jpg adalah bukan untuk menetap, saya harap.. *smile* kecuali Allah SWT memang menentukan dan memberi surat ‘tugas’ untuk menetap lagi *tetep smile*. Saya lebih suka berada diantara lugunya wajah orang-orang sebangsa juga diantara permasalahan kota tempatku tinggal😉, diantara temen-temen, saudara dan anak-anak indonesia.. ciee.. nasionalis banget :p..

Adaptasi
Setiap yang namanya Perubahan tentu saja sarat akan pilihan, tantangan serta permasalahan yang harus direspon langsung tanpa ditunda atau diabaikan begitu saja karena justru disanalah proses adaptasi berlaku *weleh teoritis banget ya*. Bila tidak direspon dan diberikan solusi tentu masa adaptasi untuk segera settle akan lebih lambat lagi tercapai. Begitu juga dg kehidupan real mayaa selama 20 hari ini, wih bener2 deh bikin gak bisa online dengan baik di dunia mayaa. Adaptasi lagi dengan oksigen tanah air kaya akan polutan, jalan raya yang super padat oleh kendaraan hingga wajib ikut macet, kalo udah gini banyak waktu yang mesti hilang begitu saja dijalanan, ongkos segalaaa macem barang or jasa yang mahal dibandingkan dengan pendapatan seseorang, kalo di jepang.. biar kata mararahal *mahal, sunda* tapi nilai uangnya masih tinggi jadi jatuhnya murahlah. Adaptasi dengan karakter online dalam masa adaptasi ini. Tarikan real mayaa alias dunia nyata lebih tinggi dibanding ketika di Jpg. Bayangkan saja, internet bagai ‘nasi’ ketika disana, namun jadi ‘rendang’ ketika disini heuheu.. nah yang tinggal di tanah air tapi bisa online dengan baik artinya… Kalo saya masih sekali-sekali dalam sepekan makan rendangnya.. he2 Masa adaptasi ini tak ayal menuai banyak protes juga terutama dari temen2 yang ‘kehilangan’, abis biasa ‘standby on’ lalu ilang kayak ditelen bumi. Saya cuman bisa nerimo, abis emang kenyataannya adaptasi ini susah kok!
Lihat kutipan ini:
“…Terus terang sikap maya membuat kecewa, pertemanan kita gak cukup istimewa untuk menempatkan jumpa dalam prioritas. Maya sama sekali gak minat sekedar bertemu dan menyapa, seolah saya bukan siapa2, kecewa tinggal kecewa, berkali maya pulang berkali pula begitu…” dan beberapa lainnya yang intinya ‘kecewa’ juga, ehem.. ternyata punya fans gak mudah juga ya (pls jangan tambah sewot!^-^)

Prihatin
Apa yang menjadi keprihatinanku tingkat tinggi ini?
Adalah saat kulalui 20 hari ini dimana pandangan mataku tak pernah lepas dari tumpukan sampah yang menggunung, membludak, acak-acakan baik ditempatnya juga di bukan tempatnya. Bagai tidak ada pergerakan, entah apa yang ditunggu untuk mengosongkan bak-bak sampah yang tiap 200 meter ada dalam keadaan tersebut itu. Konon TPAnyapun penuh.. walah2.. trus mau ditransfer kemana itu gunung sampah yang sudah membludak dan acak-acakan tiap 200 meter itu? Pemandangan ini saya temui bukan didalam kota, namun disepanjang perjalanan dari luar kota menuju dalam kota. Konon di TPAnya sampah-sampah itu masih ditanganin ala skala kecil, yaitu ditimbun tanah dalam lubang besar.. walah2 kumaha ieuteh .. kan percepatan produksi sampah itu perdetik!! sedangkan penanganan skala kecil itu hitungan hari, minggu bahkan bulan!
Pantes aja kalo akhirnya sampah jadi Tragedi maut dimana 114 nyawa melayang di TPA leuwigajah waktu lalu. Uuh Dinas Kebersihan dan Tata kota kerepotan sama sampah.. coba tanya deh sama tenem2 yang ada kenalan orang dalem, mereka ‘meeting’ mikirin ini hitungan apa? bulan ato taunan? gereget juga deh! hingga aku hanya bisa bengong liat sampah-sampah dimana-mana.. sementara mataku clean sampah ketika di Jpg! Maaf bukan membandingkan tapi prihatin dengan nasib kotaku, bangsaku. Sebetulnya berhasil juga kutangkap gunung2 sampah ini oleh kameraku, namun USBku entah kebawa sama yang balik ke Jepang🙂 ato ketelisut dimana yang jelas belum ketemu, jadi belom bisa kushare sekarang.

Keprihatinan lain sudah dalam list.. seperti berita banyak anak yang mengalami gizi buruk hingga ada yang menemui ajal karenanya.. ya ampuuunnnn kok bisa ya pemerintah tingkat terendah gak mendeteksi kasus ini hingga terjadi di banyak wilayah nusantara. Dimana perannya instansi terkait.. minimal lapor ke RW gitu loh! bahwa di RTnya ada kasus ini. Tampak mereka tinggal tulang saja dimana batok kepalanyapun jadi menonjol dan tak mampu bangun, duduk bahkan berdiri. Ada juga lo yang tampak 9 tahunan dalam keadaan begini hingga digendong orang tuanya utk sekedar main kehalaman!!

Dalam situasi ‘bengong dan terenyuh’ atas masalah2 negri yg kembali kutinggali aku hanya baru bisa berguman, dimana mesti kuposisikan diri untuk berperan atas keprihatinan yang melanda ini! Karena itulah kehidupan nyata betul-betul telah menyeret perhatianku dalam masa adaptasi ini.

Dah ya segini dulu kabar dariku, mau bergulat lagi dengan real mayaaku sampe ketemu di episode berikut ^-^
Have a great day!

January 3, 2006 - Posted by | Day by Day

6 Comments »

  1. Fiuuuu…. prihatin banget sama masalah sampah itu, Mayaa. Moga2 keadaan jadi tambah baik.

    Sekeluarga sehat2 aja, kan?

    Comment by Hany | January 3, 2006 | Reply

  2. That’s our country..
    Kapan masalah2 bangsa kita berakhir ya mbak?

    Comment by Gege | January 4, 2006 | Reply

  3. walah, koq bisa sih masalah sampah nggak kelar2 sampai sekarang? kan banyak tuh sarjana lulusan teknologi lingkungan di Indonesia?

    Comment by agus set | January 4, 2006 | Reply

  4. tenang bu….
    masih banyak adegan lain yg lebih seru dan tragis, tengok banjir bandang di jember…itu adegan seru awal tahun….
    dan tragisnya, kita cuma bisa ngegrundel, tanpa mampu berbuat banyak….

    Comment by dhika | January 4, 2006 | Reply

  5. 😦 what can i do for this country?

    Comment by aree | January 6, 2006 | Reply

  6. Kata sambutan di kantor kami utk teman2 yg baru pulang dr tugas ke luar negeri : “Selamat datang di dunia nyata”🙂 Mungkin jg untuk mabk Maya. Beginilah kondisi negeri yang kita cintai ini mbak. Tp hujan batu di negeri sendiri lebih baik drpd hujan emas di negeri orang lain yah🙂 Gak pa2 kok mbak..ber’rendang’ ria. Yg penting ikatan hati tetap terjalin ^_^–>

    Comment by hanum | January 6, 2006 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: