Maya Hirai’s Page

lets fold!

Petir namanya

Maghrib kemarin malam Bandung diserang petir, ga hanya kilatannya yang membuat seram namun juga suara gelegarnya yang serasa membuntuti. Langit bagai dijatuhi banyak batu besar hingga berbunyi ”Gludug..gludug..gludug..prepet..prepet.. Jegler. Jegler and Jegg..lleerrrr!!”

Pada waktu lalu kukenal seorang anak laki-laki 8 tahunan yang selalu membawa telur ayam kampung jualannya. Hampir sepekan dua kali menawarkan telurnya itu pada kami, trutama pd mamaku yang saat itu masih ada (jauh sebelum aku married). Lain waktu anak itu mengajak adik kecilnya keliling kampung untuk menjajakan dagangannya. Begitu berulang selalu kumenemukannya.

Suatu saat, dalam waktu yang lama kedua anak itu tak muncul lagi, dalam hati bertanya-tanya kemana gerangan kedua anak itu, hingga datang seorang bapa penjual telur ayam kampung juga membawa kabar ttg anak itu. Rupanya si anak selalu menceritakan keluargaku pd orang tuanya karena obrolan-obrolan atau ole2 kecil untuk dibawa pulang. Dan si bapa tidak lain adalah ayah kedua anak laki2 itu! Ia sengaja datang untuk mengabarkan kepada kami bahwa kakak beradik putranya itu telah tiada.. innalillahi wainailaihi rojiuun .. Petir telah menyambarnya di sebuah lapangan terbuka ketika mereka riang bermain!! Tiada hujan atau angin sebelumnya, hanya kilatan isyarat yang membuat si kakak mengajak serta adik untuk pulang, namun naas ketika tangannya menarik tangan adik sang petir menyambar keduanya! Dalam waktu singkat mereka kembali pada yang Kuasa.. MasyaAllah nak! Tragis benar kejadian yang menimpamu! Namun yang maha Kuasa tak semata membuat derita untukmu yang tiada berdosa, namun Allah SWT begitu menyayangimu! Dan hendak memberikan balasan yang lebih baik pada kedua orang tuamu karena keridhoannya pada kehendakNya…

Begitu juga kengerian yang kurasakan saat akan membuang sampah keluar rumah ba’da maghrib itu. Persis ketika membuka pintu kilatan datang beruntun dg nyalanya membuatku lari kebalik pintu. Ketakutan merayap .. masyaAllah bagai diintai! tapi kulihat lagi sampah di tangan ingin kumasukkan ke bak luar, karenanya kuberanikan diri juga mengendap-endap dari intaiannya. Kuhanya bisa beristighfar mohon ampun sekiranya petir-petir itu diidzinkanNya menyambarku! Karena Allah maha berkuasa atas kehendakNya! Dan ternyata Allah SWT menyelamatkanku karena Rahmat dan AmanahNya! Alhamdulillah.

February 14, 2006 - Posted by | Day by Day

5 Comments »

  1. Duh mbak..sedihnya aku baca postingan yang ini..Sedih banget dan rasa ngga tega..*speechless*

    Comment by Gege | February 15, 2006 | Reply

  2. makanya setiap mendengar petir kita perlu untuk menyebut kemahasucian-Nya…

    Comment by agusset | February 16, 2006 | Reply

  3. innalilahi wa innailaihi rojiun… subhanallah.. duh, ga bisa berkata2 nih teh.. hiks!

    Comment by Mama Zaza | February 17, 2006 | Reply

  4. Teh Maya, ceritanya kali ini sedih…
    Membayangkan bagaimana kedua kakak-beradik yang malang itu…
    Destiny. Memang sudah takdir dari-Nya.

    Comment by Doan Ilman | February 19, 2006 | Reply

  5. semoga ALlah selalu menjaga kita dan bisa kembali padaNya dalam keadaan yg khusnul khatimah ya teh (nyambung teu nya)

    Comment by ica | February 21, 2006 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: